Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti Raih Penghargaan Nasional Inovator Pendidikan 2026

Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd meraih penghargaan Inovator Pendidikan 2026 kategori Pendidikan Non Formal melalui Model SANJAYANTI berbasis Tri Hita Karana.

PRESTASI

Aksa

5/13/20262 min read

Buleleng | Bali – Dunia pendidikan nonformal Indonesia kembali menorehkan inspirasi baru. Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd berhasil meraih penghargaan bergengsi Pemenang Insan Pendidikan Berdampak Tingkat Nasional 2026 kategori Inovator Pendidikan Non Formal melalui inovasi bertajuk Model SANJAYANTI Terintegrasi Tri Hita Karana. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan nonformal mampu menghadirkan solusi strategis bagi masyarakat, khususnya mereka yang mengalami keterbatasan akses pendidikan formal.

Bagi Dr. Hervina, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol prestasi pribadi, melainkan bentuk pengakuan atas perjuangan para peserta didik, tutor, dan masyarakat marginal yang selama ini berjuang mendapatkan kesempatan kedua untuk belajar.

“Penghargaan ini bukan pencitraan, tetapi bentuk publikasi dan personal branding bagi lembaga sekaligus pengakuan atas perjuangan para pejuang literasi yang selama ini bekerja dalam keterbatasan,” ungkapnya.

Melalui Yayasan dan PKBM Widya Aksara, Dr. Hervina mengembangkan Model SANJAYANTI sebagai pendekatan komprehensif dalam pengelolaan pendidikan nonformal berbasis filosofi lokal Tri Hita Karana. Model ini menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan (Palemahan).

Tidak hanya fokus pada aspek akademik, Model SANJAYANTI juga dirancang untuk membangun karakter, kemandirian ekonomi, dan kecakapan hidup peserta didik. Konsep SANJAYANTI sendiri merupakan akronim dari nilai-nilai strategis seperti Sinergi, Akselerasi, Nyata, Jalinan, Adaptif, Yakin, Tangguh, dan Inspiratif. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab berbagai persoalan pendidikan nonformal, mulai dari putus sekolah, buta aksara, hingga rendahnya daya saing masyarakat marginal.

Dalam implementasinya, program ini menyasar anak tidak sekolah (ATS), masyarakat berpenghasilan rendah, pelaku UMKM mikro, warga belajar Paket A, B, dan C, perempuan termarginalkan, hingga masyarakat buta aksara. Pendekatan yang fleksibel dan berbasis kebutuhan nyata membuat model ini dinilai relevan dengan tantangan zaman sekaligus tetap berpijak pada budaya lokal.

Dampak dari inovasi tersebut mulai dirasakan masyarakat. PKBM Widya Aksara mencatat peningkatan literasi fungsional warga belajar hingga 35 persen. Selain itu, peserta program Paket C juga mulai mampu mengembangkan keterampilan vokasional yang berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga mereka. Partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pendidikan pun meningkat berkat kolaborasi erat antara pengelola, orang tua, dan komunitas lokal.

Meski demikian, Dr. Hervina mengakui tantangan terbesar dalam pengembangan pendidikan nonformal adalah mengubah pola pikir masyarakat yang masih memandang jalur nonformal sebagai pilihan kedua. Menurutnya, dibutuhkan kreativitas dan kemampuan adaptasi untuk menyelaraskan nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan teknologi digital.

Ke depan, Model SANJAYANTI direncanakan akan direplikasi secara nasional melalui pengembangan platform digital dan laboratorium ruang belajar masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan nonformal berkualitas di berbagai daerah Indonesia.

“Kami ingin membangun ekosistem pendidikan nonformal yang mampu mengejar ketertinggalan, mengiringi kemajuan zaman, bahkan mendahului sebagai problem solver di masyarakat,” tegasnya.

Di akhir wawancara, Dr. Hervina menyampaikan pesan inspiratif kepada generasi muda agar tidak memandang pendidikan nonformal sebagai jalan alternatif semata.

“Belajar tidak terbatas ruang. Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah, dan semua hal yang dialami adalah sumber belajar,” pesannya.

Penghargaan yang diraih Dr. Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan berbasis nilai budaya lokal dapat menjadi solusi nyata dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing di tingkat nasional.

TULIS KOMENTARMU